Header Ads

Toko Kopi Banjaran Hari Ini dan Nanti

Toko Kopi Banjaran Hari Ini dan Nanti - Hari ini bulan masih begitu muda; Januari 2019. Banyak sekali permulaan-permulaan yang dilakukan oleh banyak pihak, termasuk media ini; UKM Bandung.

Ya, kami masih seumur jagung. Efektifnya, di malam pergantian tahun - kami mencoba memikirkan mau dibawa kemana (jadi kayak lagu) media ini? Akhirnya, ditemukanlah konsep bahwa media ini merupakan sarana sebagai pusat Info Bisnis & Berita UKM Bandung.

Dan yang akan kami coba informasikan pada edisi kali ini adalah tentang Toko Kopi Banjaran Hari Ini dan Nanti. Kami sempat bertanya dan diskusi ringan dengan pemilik dari produsen kopi, "Kopi Banjaran" yaitu Kang Dinda.

Toko Kopi Banjaran Hari Ini dan Nanti

Ada banyak hal yang kami obrolkan, tidak saja menyoal rencana bisnis dengan Toko Kopi Banjaran. Suami dari Wilda Meilenawati (26 tahun) sempat menceritakan kali pertama terjun jualan kopi secara online beberapa tahun yang silam.

"Satu hari tanggal 26 Februari 2016,ada yang nawarin kopi buat dijual online. Tapi waktu itu belum ada merek dan kemasan dan lain-lain. Singkat cerita, saya membeli kopi," ungkap Kang Dinda.

"Kemudian saya berinisiatif bikin flash sale di media sosial Facebook, waktu itu1 Maret 2016 mulai memakai nama Kopi Banjaran. Alhamdulillah program berjalan sesuai rencana, kopi terjual habis dalam waktu 1 jam," kenangnya.

Terus diulang lagi konsep berjualan daring seperti ingin mengulang sukses sampai akhirnya, Kopi Banjaran mampu menemukan beberapa orang yang membantu menjadi tenaga pemasaran hingga hari ini.

Sosok pria murah senyum asli Banjaran ini pun hari ini tengah memiliki toko, namanya Toko Kopi Banjaran. Lokasinya di bilangan Ciapus, sebuah tempat yang cukup memiliki jalanan yang naik turun tidak jauh dari mulut jalan Raya Alun-Alun Banjaran.

Kami sempat menanyakan, di era digital seperti sekarang, apa yang membuatnya begitu optimis membangun bisnis dengan mendirikan toko fisik?

Pengajar sebuah SMK jurusan Usaha Perjalanan Wisata ini dengan tegas menjawab, "Ternyata di Indonesia, keberadaan fisik dari sebuah bisnis masih sangat dibutuhkan."

"Apalagi Kopi Banjaran dengan mengusung produk khas daerah, akhirnya membentuk konsumen untuk ingin datang sekadar ingin tahu dan ngobrol lebih jauh seputar kopi," sambungnya.

Sebab menurutnya, sekarang memang ada jamak transaksi produk melalui online atau dari tangan ke tangan orang lain dan tidak sedikit yang penasaran dengan toko fisik dari Kopi Banjaran.

Pembaca ... Anda pun bisa merasakan ketika memiliki bisnis online, lalu ketika berkesempatan berjumpa dengan pelanggan bertatap muka langsung, tidak sedikit dari mereka bertanya, "Tokonya yang mana ya?"

Gemilang Putra atau Kang Dinda bersama istrinya
Pemilik brand Kopi Banjaran; Gemilang Putra atau Kang Dinda bersama istrinya.

Toko Kopi Banjaran Hari Ini dan Nanti

Pria berusia 32 tahun inipun sempat menanggapi dengan hadirnya fenomena Online to Offline (O2O) atau sebaliknya. Dengan memberikan gambaran konkrit bahwa hari ini di Toko Kopi Banjaran bisa melayani pelanggan yang berkunjung ke toko untuk pembelian kopi dan pembayaran melalui Go-Pay.

"O2O merupakan masa depan yang "harus" menjadi kultur di Indonesia. (Tidak jarang juga-red) guna menumbuhkan pembelian online - masyarakat harus diedukasi. Dan masyarakat Indonesia saat ini masih membutuhkan bukti fisik secara nyata dari sebuah toko," tambah Kang Dinda.

"Makanya membuka toko didukung dengan teknologi bisa menjadi solusi; pelanggan secara tidak langsung akan diedukasi pembelian offline tapi pembayaran online," lanjut Kang Dinda kepada UKM Bandung dengan begitu antusias.

Usia bisnis Kopi Banjaran akan berusia 3 tahun pada Maret 2019 besok. Brand tersebut sangat ikonik dengan adanya gambar keretek (bahasa Sunda untuk delman) di setiap kemasan kopi ini.

"Gambar ikon keretek itu teh di tahun 2017 - pertengahan ... Awalnya saya ngeliat tanggapan dari konsumen yag menganggap si Kopi Banjaran identik sebagai oleh-oleh Banjaran. Untuk memperkuat saya minta seorang seniman asal Banjaran (bernama Sony, freelancer designer-red) untuk bikinin ikon yang pas untuk menjadi ciri dari brand Kopi Banjaran," cerita Kang Dinda

"Nu Banjaran pisan. (supaya dibuat dengan kesan Banjaran banget-red). Nah, dari banyak literatur akhirnya dipilihlah keretek menjadi ikon sampai sekarang," sambungnya.

Rencana lain dari Toko Kopi Banjaran Hari Ini dan Nanti yaitu memadu padankan antara unsur kekinian dengan masa lalu. Pembaca bisa menilai dari kemasan Kopi Banjaran. Bila kita perhatikan, kesan yang nampak dari kemasannya, Kopi Banjaran nampak klasik, vintage tapi tidak kehilangan kesan elegannya.

Namun, ketika kita masuk ke dalam Toko Kopi Banjaran, ada kesan kekinian yang nampak di sana, contoh kecil, kusen yang digunakan pada bangunan toko ini menggunakan kusen aluminium. Secara sepintas saja toko ini sudah memberikan suasana moderen.

Berbicara varian produksi kopi. Kopi Banjaran memiliki dua varian; arabika dan robusta. Mengingat, dua jenis varian tersebut adalah jenis kopi yang populer di Indonesia khususnya di Jawa Barat termasuk di Banjaran.

"Kopi banjaran ingin menampilkan basic tersebut (kopi robusta dan arabika-red). Kita belum berkembang ke pengolahan lainnya." 

Karena masyarakat lokal banyak yang belum tahu sumber daya kopi di daerah mereka.

"Sebetulnya kuat. Kopi banjaran memposisikan diri menjadi fundamentalis yang memperkenalkan kopi tersebut ke masyarakat," tegas Kang Dinda.

"Bicara fundamental, kami pernah mensosialisasikan tentang budaya seduh kopi. Beberapa waktu yang lalu, pernah berinisiatif menjalankan kampanye di sosial media dengan tagar Ngopi Adalah Kultur Kita," imbuhnya.

"Termasuk tentang hal dasar, yaitu cara menyeduh kopi campur gula, seduh dulu kopinya baru pakai gula," Kang Dinda melengkapi penjelasannya.

Semua edukasi dan sosialisasi bisa difahami oleh masyarakat membutuhkan proses dan sudah berjalan selama tiga tahun.

"Bagaimana mungkin kualitas kopi bisa diketahui jika masih diseduh bukan dengan cara yang sebaiknya dilakukan?" tanya Kang Dinda sedikit berretorika.

TAHUKAH ANDA? Untuk menyasar pasar menengah ke bawah, Kang Dinda hari ini sudah memproduksi kopi segmen ini dengan menghadirkan Kopi Cap Keretek.

Kopi Murni Arabika Robusta Cap Keretek Oleh Kopi Banjaran

Kopi Murni Arabika Robusta Cap Keretek Oleh Kopi Banjaran


Pembaca yang penasaran dengan profil dari kopi yang menjadi second brand dari Kopi Banjaran ini - Anda tinggal membacanya di Bukalapak - di sini.

Kepada UKM Bandung, Kang Dinda menjelaskan bahwa Toko Kopi Banjaran selain menjadi aktifitas transaksi dan distribusi, ke depan - toko akan berperan pula sebagai pusat berkomunal meskipun hanya untuk sharing kecil dan tukar informasi.

"Tempat bertukar informasi dan berbagi baik mengenai kopi itu sendiri ataupun banyak hal lain. Sesimple itu aja sih," ucap Kang Dinda dengan nada meyakinkan.



Toko Kopi Banjaran Hari Ini dan Nanti

Pemandangan dunia bisnis digital memang dari waktu ke waktu sangat signifikan perkembangannya, setiap orang baik individu ataupun kelompok harus siap menghadapinya termasuk bagi Kopi Banjaran.


"Buat Kopi Banjaran, hari ini adalah waktunya," pungkas Kang Dinda.

2 komentar:

  1. Cap Keretek seperti mendekati para penggemar kretek (rokok)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin, namun yang jelas - itu hasil pertimbangan dan kultur yang melatarbelakangi sejarah kota Banjaran :)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.